Pewarisan Ab Intestato dan Pewarisan Ad Testamento: Kelebihan dan Kekurangannya

Hukum Waris merupakan suatu hukum yang mengatur peninggalan harta seseorang yang telah meninggal dunia yang mana harta tersebut diberikan kepada yang berhak, seperti anggota keluarga atau masyarakat yang lebih berhak.

Dalam hukum waris perdata, sistem kewarisan yang diatur adalah sistem secara individual, yaitu ahli waris mewaris secara individu atau sendiri- sendiri, dan juga tidak ada pembedaan antara ahli waris laki-laki maupun perempuan, keduanya mempunyai hak mewaris yang sama.

Selain itu berlaku pula suatu asas dalam hukum waris perdata, yaitu apabila seorang pewaris meninggal dunia, maka hak dan kewajibannya beralih kepada para ahli warisnya seketika itu juga demi hukum, sepanjang hak dan kewajiban tersebut merupakan cakupan dalam lapangan hukum harta kekayaan atau hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang. Ciri khas dari sistem hukum waris perdata yang menjadi pembeda dengan sistem hukum lainnya adalah menghendaki agar harta peninggalan pewaris sesegera mungkin dapat dibagi- bagi kepada mereka yang berhak atas harta tersebut.

Ada dua cara pembagian warisan untuk ahli waris menurut Hukum Waris Perdata Barat yaitu: secara ab intestato yaitu ahli waris mempunyai hubungan darah dan hubungan perkawinan dengan si pewaris dan secara testamentair/surat wasiat yaitu ahli waris ditentukan oleh si pewaris dalam surat wasiat.

Dalam pembagian warisan menurut Ab Intestato, telah diatur dalam Undang-Undang Pasal 832 KUHPerdata. Menurut KUHPer, yang berhak menerima bagian warisan adalah para keluarga sedarah, baik sah maupun luar kawin dan suami istri yang hidup terlama. Keluarga sedarah yang menjadi ahli waris dibagi dalam empat golongan yang masing-masing merupakan ahli waris golongan pertama, kedua, ketiga dan keempat.

Pembagian warisan menurut Testamentair adalah pembagaian dengan cara Surat Wasiat, dimana sebelum meninggal dunia si pewaris membuat surat wasiat dan menetapkan di dalam surat wasiatnya siapa-siapa yang dia inginkan menjadi ahli waris. Hal ini di atur dalam pasal 899 KUH Perdata. Surat wasiat dalam hukum waris perdata barat haruslah dibuat tertulis oleh si pewaris. Surat wasiat harus berbentuk tertulis agar menjamin sebuah kepastian hukum dalam pembgian warisan menurut cara hukum perdata barat. Selain itu juga untuk alat bukti yang pasti dan jelas jika nantinya ada pihak-pihak yang tidak merasa puas akan pembagian warisan tersebut dan bisa juga dijadikan sebagai alat bukti yang kuat di pengadilan. Surat wasiat harus yang berisi penunjukan ahli waris harus tetap berdasarkan pada ketentuan KUHPerdata di mana ada ketentuan bahwa sebelum penetapkan ahli waris dalam surat wasiatnya si pewaris harus memberikan bagian yang mutlak (Ligitieme Portie) kepada legitimaris (ahli waris yang mempunyai hubungan darah dengan pewaris dalam garis vertikal).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diuraikan kelebihan dan kekurangan masing-masing cara mewaris yang saya rangkum dalam tabel berikut ini:

Pewarisan Ab Intestato (Pewarisan Berdasarkan Undang-Undang)

Kelebihan

Kekurangan

  • Merupakan sistem yang menjamin perwarisan sesuai Kepastian hukum berarti bahwa dengan adanya hukum.

  • Setiap orang mengetahui yang mana dan seberapa haknya dan kewajibannya

  • Mempunyai efektivitas kemanfaatan hukum yaitu terciptanya ketertiban dan ketentraman dalam hidup bermasyarakat, karena adanya tertib hukum (rechtsorde).

  • Secara normatif/terkodifikasi tidak semua dapat diketahui oleh masyarakat umum, sehingga perlu dilakukan sosialisasi oleh pihak yang terkait agar masyarakat mendapat pemahaman terhadap hak-hak mereka dalam masalah pewarisan sesuai dengan golongannya masing-masing

  • Dianggap sulit oleh masyarakat, prosedur panjang, susah dan ribet. Sehingga masyarakat memakai sistem waris melalui cara pewarisan islam atau adat sedang ada pembagian pewarisan menurut hukum perdata melalui cara ab intestato.

Pewarisan Ad Testamento (Testamen)/Wasiat

Kelebihan

Kekurangan

  • Merupakan sistem yang lebih diutamakan dari sistem Pewarisan Ab Intestato (Pewarisan Berdasarkan Undang-Undang), dengan pengecualian selama isi dan pembagian dalam surat wasiat tidak bertentangan dengan undang-undang

  • Dianggap masyarakat dapat dilakukan dengan prosedur yang mudah yaitu hanya dengan bukti surat, berupa bukti Testamen (Surat Waris),

  • Dianggap masyarakat dapat dilakukan dengan prosedur yang mudah

  • Dianggap dapat berisi bagi semua pengangkatan waris sesuai dengan objek waris atau semua yang dikehendaki oleh si pewaris (pembuat testamen).

  • Sistem ini dapat menimbulkan perbedaan pendapat dalam isi surat wasiat, apakah suatu tindakan hukum tertentu tersebut merupakan kehendak terakhir si pewaris (pembuat testamen),

  • Ketentuan sistem pewarisan ini mutlak secara kehendak subyek hukum, namun dibatasi oleh kehendak objek hukum yang berwujud syarat-syarat pembuatan hukum dari surat warisan tersebut

  • Berpeluang dapat terjadi rekayasa dalam penetapan isi testamen, jika tidak awasi dan dipegang oleh lembaga yang berwenang, karena surat waris merupakan akta otentik yang diterbitkan oleh Pejabat Balai Harta Peninggalan.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CommentLuv badge