Ayam Goreng Suharti

Tanggal publikasi: 2 February 2010
Kategori: kuliner

Siapa yang suka makan ayam goreng?

Bagi pecinta kuliner terutama masakan Indonesia pasti tahu dengan yang namanya Ayam Goreng Ny. Suharti. Ayam goreng ini udah terkenal banget karena rasanya enak, dagingnya yang empuk, bumbu menyerap, dan juga kremesannya yang renyah.

Ayam Goreng Suharti Yang Mana?

Bagi yang belum tau, Ayam goreng Suharti itu sebenernya ada 2. Kedua ayam goreng suharti ini bisa kita lihat perbedaannya berdasarkan logonya. Yang satu berlogo Ny. Suharti yang mengenakan pakaian kebaya Jawa, dan yang satunya lagi berlogo 2 ayam dengan huruf S ditengah-tengahnya.

Lalu yang asli yang mana?

Sebelum tau yang asli yang mana, bisa dibaca dulu sejarahnya kenapa bisa ada 2 Ayam Goreng Suharti berikut ini yang kutip dari Majalah Tempo.

Klik!!
Ny. Suharti membuka rumah makan ayam goreng Ny Suharti di Semarang. Ia pisah usaha dengan suaminya yaitu Bambang Sachlan Pratohardjo. Sachlan menguasai semua rumah makan, termasuk nama Ny. Suharti.

“Kalau cinta melekat, tai kucing rasa coklat.” Ini bait lagu ciptaan almarhum penyanyi Gombloh, yang populer beberapa tahun lalu. Tapi, kalau cinta mulai luntur, bisnis ayam goreng Ny. Suharti ikut kendur. Lirik yang terakhir ini bukan dari Gombloh, tapi refleksi kerugian yang diderita Ny. Suharti, 52 tahun, sesudah pecah kongsi dengan suaminya Bambang Sachlan Praptohardjo.

Setelah hampir 30 tahun membina bisnis dan rumah tangga, kerja sama yang sukses itu bubar. Ny. Suharti hampir tidak kebagian apa-apa. Soalnya, semua rumah makan secara resmi merupakan milik Sachlan. Mungkin saja Suharti ceroboh, atau ia percaya penuh pada Sachlan. Yang pasti, kini Ny. Suharti hanya dapat gigit jari.

Entah bagaimana, Oktober lalu, ia membuka Rumah Makan Ayam Goreng Ny. Suharti di Semarang. Logo semula — dua ekor ayam dengan huruf S di tengahnya dan tulisan Ny. Suharti — kini, ditambah potret diri Ny. Suharti, dalam busana Jawa.

Sebelum ini, dengan logo lama, ayam Ny. Suharti, yang digoreng garing itu, sudah melanglang ke Denpasar, Jakarta, Surabaya, dan Purworejo. Peminatnya banyak. Rumah makan di Jalan Pemuda, Jakarta, yang berkapasitas 150 tempat duduk dan juga yang di Jalan Tendean — keduanya milik Sachlan — hampir selalu dipagari deretan mobil pengunjung. Rumah makan di kota lain juga sama larisnya. Lalu, apa yang istimewa dari restoran yang di Semarang? Menu ayam goreng kampung, persis sama, baik rasa maupun harganya (Rp 7.000 per ekor), dengan hidangan di rumah makan Ny. Suharti yang lain. Bedanya, “Ini usaha saya sendiri, tanpa campur tangan Sachlan,” ujar Suharti. Ia tidak mau menyebutkan nilai investasi, dan siapa penyandang dananya. Ny. Suharti juga bukam soal kerugian uang dan materi, yang dideritanya. Hanya, Ia tak merahasiakan penyebab pecahnya usaha, yakni hadirnya orang ketiga. Katanya, diam-diam Sachlan mempunyai isteri simpanan di Jakarta. Akibatnya, Sachlan, mengurus dua rumah makan di Jakarta, tak lagi pulang ke Suharti di Yogya. Maka, terjadi perang dingin. Anehnya, suami isteri yang mempunyai empat anak itu, belum resmi cerai.

Sementara itu, perebutan harta keluarga terus berlangsung. Menurut Suharti, suaminya bertindak curang. Ia menguasai semua rumah makan, termasuk nama Ny. Suharti, yang menjadi logo usaha. Sachlan menurunkan semua potret Suharti dari dinding restoran. Tapi, nama Suharti, yang merupakan kunci sukses, dibiarkan tetap terpasang. Padahal, menurut sang Nyonya, nama itu sudah termasyhur sebelum ia menikah dengan Sachlan. Ketika rumah makan yang pertama dibuka, nama Ny. Suharti lah yang dipasang. Soalnya, nama itu sudah dikenal di Yogya dan Sala.

“Tidak pernah terpikir oleh saya, akan begini jadinya,” sesal Ny. Suharti. Pernyataan ini dibantah oleh Sachlan, yang ditemui di Jakarta. Menurut dia, ketika menikahi istrinya, Suharti hanyalah bakul (pedagang), yang menjajakan ayam goreng buatan kakaknya, Mbok Berek, yang memang tersohor di mana-mana. Sachlan, yang ketika itu pegawai Pemda Yogya, jatuh hati pada janda tiga anak itu, dan menikahinya. Berbekal gaji sebagai pegawai Pemda, Sachlan mengaku dapat membeli tanah di Jalan Adisucipto, Yogya, tempat rumah makan yang pertama, dibangun. “Uang pembelian dari saya, jadi tanah dan ijin usaha itu atas nama saya,” katanya. Bahkan, resep ayam goreng dan sambal pun, diakui Sachlan, sebagai hasil ulekannya, yang sudah dimintakan paten sejak tiga tahun lalu. Jadi, mengapa memakai nama Suharti? “Yang namanya Ny. Suharti kan tidak hanya dia. Lagi pula itu sekadar nama,” begitu Sachlan mengelak.

Jadi ternyata mereka bercerai karena ada pihak ketiga toh..
*infotainment mode on*

Terus yang lebih enak yang mana?

Bagi yang pernah merasakan keduanya, mungkin bisa merasakan perbedaannya. Konon sih yaa, Ayam Goreng milik Suharti (yang berlogo Suharti) itu lebih enak dibandingkan dengan milik mantan suaminya. Kalo saya sih setuju, soalnya ayam goreng Suharti milik mantan suaminya itu nampaknya kremesnya kurang, dan dagingnya juga kurang cerah.

Tapi, yang namanya rasa itu kan subjektif banget kan.. nah menurut kamu enakan mana?

Enakan Ayam Goreng Suharti yang..

View Results

Loading ... Loading ...
Share this post to:
  • Twitter
  • Facebook
  • del.icio.us
  • email

Diposting pada tanggal 2 February 2010 pukul 8:00 pm dalam kategori kuliner. Kamu bisa mengikuti perkembangan komentar postingan ini melalui RSS 2.0 feed. Kamu dapat Meninggalkan komentar, atau trackback dari situs kamu.


Ada 74 Komentar untuk “Ayam Goreng Suharti”

#1

kenyang abis makan ayam goreng suharti :yess:

tapi yang punya suaminya :males:

[Reply]

#2

kirim donk.. :gemes: bayar di tempat…. ;-)
Siucup´s last blog ..PERANCANGAN MEMORI 1 kb x 8 bit My ComLuv Profile

[Reply]

Ridu Reply:

@Siucup, ongkirnya ditanggung yaa PP :musik:

[Reply]

Siucup Reply:

@Ridu, okeh.. di tanggung aja kan? nggak di kasihin ke elo atau ke pengirimnya?? :kembar:
Siucup´s last blog ..PERANCANGAN MEMORI 1 kb x 8 bit My ComLuv Profile

#3

setau gw malah lebih familier yang punya suaminya!
dan setau gw di sekitar2 gaul gw di surabaya gw cuman nemu yang simbol ayam 2 ituuu!
enak2 aja, enak lagi kalo di gratisin ridu! :p :ayuk2:

[Reply]

Ridu Reply:

@jivatrosidi, nah kalo gue tebalik, gw awalnya tahu yang punya ny. suharti-nya.. keknya di jakarta lebih banyak yang berlogo potret itu deh daripada yang punya suaminya..

kalo gratis emang enakkk :gemes:

[Reply]

#4

sungguh pilihan yang sulit..
ini benar – benar memusingkan saya.. #lebay
Dodi Iswandi Mauliawan´s last blog ..Saya Berjanji Untuk Mengikuti Upacara Dengan Khusyuk My ComLuv Profile

[Reply]

#5

kagak tau.. ga ada di padang.. :kesel:
rian´s last blog ..2010 My ComLuv Profile

[Reply]

Tinggalkan komentar kamu

CommentLuv Enabled

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes