Kamus Istilah Bus Kota

Salah satu sarana transportasi umum yang ada di Jakarta adalah Bus Kota. Berdasarkan perusahaan penyedia terdapat beragam jenis bus di Jakarta, ada yang bus berukuran besar seperti Bianglala, Mayasari Bakti, Steady Safe dan lain-lain, dan ada juga yang berukuran bis kecil seperti Metromini, Kopaja, Koantas Bima, dan lain-lain.

Nah berdasarkan data yang diperoleh di jalan, terdapat istilah-istilah yang perlu diketahui bagi pengguna kendaraan umum (khususnya di Jakarta). Isitlah-istilah yang sudah sangat umum tetapi masih sangat awam bagi orang luar Jakarta. Istilah-istilah tersebut terangkung di bawah ini.

  • Trayek = Jalur yang dilalui oleh angkutan umum.

Setiap bus kota mempunyai trayek masing-masing. Karena banyaknya trayek dengan jenis kendaraan yang sama, maka diberikan id berupa angka maupun kombinasi angka dan huruf. Sehingga kita dengan mudah mengidentifikasi trayek antara bus yang satu dengan bus lain berdasarkan id tersebut.

Contoh:

610 : Blok M – Pondok Labu, 611 : Blok M – Lebak Bulus,

69 : Blok M – Ciledug, P 19 : Ragunan – Tanah Abang, dsb.

Trayek yang lain bisa dilihat di sini atau di sini.

  • Sewa = Penumpang

Penumpang yang menggunakan jasa angkutan umum disebut “sewa” oleh para awak bus. Mereka kadang menggunakan sewa sebagai tolok ukur kesuksesan pekerjaan mereka.

Contoh: “63 itu sewanya selalu bagus”

  • Lay = Panggilan untuk kondektur bus

Beberapa menggunakan panggilan itu terutama bagi cowok-cowok, tapi rata-rata menggunakan panggilan kepada kondektur seperti abang (bagi cowok) atau mba/ bu (bagi ibu-ibu)

  • Gunting = Menarik uang kepada penumpang

Umumnya kondektur tidak berkata apa-apa ketika menarik uang kepada penumpang, biasanya hanya isyarat seperti menggoyangkan telapak tangan dari atas ke bawah sehingga terdengar suara gemercing uang receh. Dan karena telah menjadi suatu kebiasaan maka secara otomatis penumpang langsung memberikan uang sebagai ongkos naik bus itu.

Istilah kata “gunting” digunakan untuk komunikasi internal awak bus. Misalnya si supir mengingatkan kepada kondektur untuk segera “menggunting” (menarik) uang dari penumpang.

Contoh: “Udah kau gunting saja dulu, lagi di macet nih..”

  • Rapat = Keadaan dimana bus yang satu trayek dan searah saling berdekatan

Dalam kondisi “rapat” ini biasanya bus kota akan berubah menjadi wahana yang memacu adrenalin baik bagi supir, kondektur, dan juga penumpang. Karena ketika kondektur berteriak “Rapat” ke supir, maka supir bagaikan mendengarkan genderang perang telah berbunyi. dan SIAP TEMPUR! Kecepatan bus berubah menjadi sangat cepat bahkan dalam kondisi macet sekalipun, sampai tingkat ekstremnya adalah mengambil jalur lain yang berlawanan arah atau bahkan menyerobot menggunakan trotoar.

Hal ini sangat membahayakan penumpang dan juga lingkungan sekitar. Tapi kadang ada juga penumpang yang senang dengan kondisi ini, karena mempersingkat waktu perjalanan.

  • Jauh = Lawan dari kata “Rapat”

Keadaan dimana jarak antara bus yang satu trayek dan searah itu saling berjauhan. Biasanya kondektur memantau jarak busnya dengan kompetitor secara berkala dan melaporkannya kepada supir. Respon dari supir ketika mendengarkan kata “jauh” adalah beragam, ada yang memperlambat kecepatan bus, ada yang mempertahankan kecepatannya, bahkan ada juga yang sengaja berhenti dan menunggu bus yang sama untuk berdekatan lagi. Ini yang menurut para penumpang berlawanan dengan logika. Penumpang juga dibuat kesal dengan kondisi seperti ini, karena memperpanjang waktu perjalanan.

  • Tahan = Menahan bus untuk tidak bergerak

Bisa dibilang kalo “tahan” itu berarti mengurangi kecepatan atau bisa juga berhenti secara berkala. Tujuannya? biasanya mereka “menahan” karena kondisi “jauh” atau juga menunggu penumpang dari suatu gang yang hendak naik tapi berjalan sangat lambat atau tidak mempercepat langkahnya (ini yang dibenci oleh penumpang lain). Selain itu juga ada yang melakukan “tahan” di lampu hijau untuk spekulasi, yaitu agar bus pesaingnya yang berada di belakang terjebak lampu merah. Ini yang membuat kemacetan!

  • Oper = Memindahkan penumpang bus sendiri ke bus lain yang searah dengan trayek yang sama.

Salah satu hal yang paling dibenci oleh penumpang, yaitu “oper”. Oper biasanya dilakukan karena jumlah penumpang yang sedikit sehingga supir memutuskan untuk “muter” atau bisa juga karena awak bus memiliki urusan pribadi, seperti pulang, isi bensin, balik ke pool, dan sebagainya.

Oper akan berhasil apabila terjadi kesepakatan dengan bus yang akan dioper. Karena mereka harus membayar sejumlah uang kepada bus yang lain sebanding dengan jumlah penumpang yang dioper. Penumpang membenci dioper karena merasa awak bus tidak bertanggung jawab dengan kewajibannya, yaitu mengantarkan penumpang sampai akhir trayek. Selain itu penumpang yang dioper juga mempunyai risiko untuk tidak mendapatkan tempat duduk.

  • Muter = Memutar bus ke arah yang berlawanan

Sangat sedikitnya penumpang yang naik menjadi alasan utama awak bus untuk berputar dan kembali ke tempat awal (seperti terminal). Sedangkan para penumpangnya dioper.

  • Habis = Turunnya penumpang secara banyak di suatu tempat tujuan.

Kondektur akan berteriak “habis-habis” apabila telah mencapai akhir dari trayeknya, atau terkadang ada bus yang tidak sampai akhir trayek tapi menurunkan penumpang secara sembarangan tanpa dioper terlebih dahulu.

  • Kosong-Kosong = Keadaan dimana jumlah penumpang di dalam bus sedikit

Sebenenarnya kata kosong-kosong adalah salah satu kalimat iklan dari si kondektur untuk menarik penumpang. Terkadang kata tersebut tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya, yaitu bahwa bus itu penuh, tapi kondektur tetap berteriak “kosong-kosong”. Sehingga dibutuhkan kecerdasan penumpang dalam memperhatikan kondisi yang sebenarnya.

  • Kosong-Duduk = Keadaan dimana jumlah penumpang di dalam bus sedikit dan terdapat tempat duduk

Kurang kena dengan teriakan “kosong-kosong” untuk menarik penumpang, sang kondektur pun menambahkan kata “duduk” yang menginformasikan kepada penumpang bahwa masih terdapat tempat duduk tersedia. Biasanya penumpang langsung naik ketika mendengar kalimat “kosong-duduk” ini.

  • Ngetem = Diam, tidak bererak, menunggu sesuatu

Ini yang paling dibenci oleh penumpang. Rata-rata bus ngetem karena menunggu penumpang sampai penuh mengisi tempat duduk. Tidak disarankan bagi yang terburu-buru untuk naik bus yang ngetem, karena kapan bus akan berjalan hanya awak bus yang tahu.

  • Langsung = Lawan dari ngetem

Langsung merupakan salah satu kalimat iklan juga dari kondektur untuk menarik penumpang, artinya bus tersebut langsung berangkat tanpa menunggu penumpang atau bisa juga bus tersebut langsung ke tempat akhir tanpa melewati rute yang lebih panjang.

Ya demikian sedikit informasi yang berhasil dikumpulkan tim redaksi, data diperoleh dari riset secara langsung.

Hierarki Pengguna Jalan

Sebagai penutup, berdasarkan hierarki pengguna jalan, kendaraan umum berada diposisi ketiga, yaitu setelah pejalan kaki dan kendaraan non motor. Dimana semakin tinggi tingkatnya semakin diprioritaskan. Bagaimana dengan di Indonesia?


Dari Greenfest 2009

    81 thoughts on “Kamus Istilah Bus Kota

    1. bhakaka….
      kocak !!

      yg kocak pas di bilang DEKET !!
      wakaka
      langsung ngebut si metromini’nya
      ahaha…
      seru dah kek naek jet koster !
      apalagi pas mo turun
      sampe” kaca’ mo di pecahin tuh gara” si sopir gak denger :sombong:
      .-= arfgan´s last blog ..Latian Anatomi Blok Neuro =-.

    2. “Oper”. Aih, kalo udah denger kata ini mah, dongkol aja d. udah enak2, udah pewe, udah hampir ngimpi (ga pake basah). Tiba2 kondektunnya bilang “oper, oper”. Nyeh..

    3. hohoho.. nice posting Du.. 🙂
      pas banget diriku baru mulai stay di Jkt. tapi belum berani naek bis kota.. huhuhu..
      kasih tips-tips juga dong Du, misal ‘tips aman dan nyaman naik kendaraan umum di Jkt’.. 😉 he he..

    4. Wah..paham betul lu Du’…
      Mantan supir bus ya? Ckckckck…
      *Peace ah! 😀

      Btw, gue mah jarang naik bus, jadi gak paham bener 😀

    5. tau deh yang bergelut dengan bisnis bus kota 😛

      btw bang, “lay” itu sebenernya panggilan kayak “abang” di suatu daerah di indonesia loh bang 🙂

      tapi sekarang mangalami pergeseran makna yang ekstrim ya, parah 😀

    6. Paling gedeg klo naik mobil 69, bukan ke arah blok m, melinkan ke arah ciledug sering di “OPER”, hikss…

      ridu dapat kosakatanya dari kondekturnya langsung apa supirnya..??

      hehehehe

      ada-ada saja kau ridu…
      jgn2 pas skripsi, bikin riset ini yah..??
      hahhaa

    7. kok ada kata “Lay”?
      hhmmm itu mungkin dari panggilan orang batak yang biasa manggil laki-laki yang lebih tua dengan kata itu. 🙂
      Berhubung teman banyak yang orang batak, itu jadi akrab terdengar…
      .-= astiti´s last blog ..Cara Menghilangkan Jenuh =-.

    8. ha..ha… 😮 kalau di jakarta mah begitu… kalau di padang …kagak ngeti orang jakarta ntar..ha..ha…bahasanya campur…ndak di jakarta ndak di padang ndak di mana aja jarang kali orang pakai bahasa indonesia..ha..ha… 😡

    9. hahahahaa.. saking seringnya naik bus, lo jadi khatam gitu.
      yg paling nyebelin tuh pas rapat du, bener tuh si sopir dah kayak kesambet, langsung tancap gas dan nyalip sana sini buat ngejer penumpang. tapi gw baru tau itu sewa = penumpang
      .-= presy__L´s last blog ..Surat Untuk Kamu =-.

    10. bah, “lay” itu kan panggilan laki-laki orang BATAK ridu, nah, mungkin karna orang batak yg banyak jadi kondektur dan supir angkota, makanya kata itu jadi umum dan sering dipakai.. 😉

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    CommentLuv badge